TNI Buka Suara Soal Tuduhan Pakai Rumah Warga Maybrat untuk Jadi Pos Militer

TEMPO.CO, Jakarta – Mabes TNI buka suara terkait keluhan pengungsi di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, yang rumahnya dan fasilitas umum di kampungnya masih dijadikan pos militer TNI.

Berdasarkan klarifikasi yang diterima dari Kapendam XVIII/Kasuari, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Laksamana Muda Julius Widjojono mengatakan, pemanfaatan fasilitas umum dan rumah warga sebagai pos TNI sudah mendapat izin dari pemerintah daerah. 

“Pos TNI yang berada di Maybrat menggunakan fasilitas umum atas izin, koordinasi, dan persetujuan pemerintah daerah,” kata Julius kepada Tempo, Jumat, 4 Agustus 2023.

Julius mengatakan, sebab situasi sudah mulai kondusif, TNI hanya menggunakan fasilitas umum di kampung yang masih sepi atau belum ditempati kembali oleh warganya. 

“Sementara untuk rumah masyarakat yang digunakan sebagai Pos Sementara TNI terdata hanya satu unit saja,” ujar Julius. 

Adapun rumah yang digunakan sebagai pos TNI tersebut adalah rumah yang belum rampung dibangun. Julius mengatakan anggota TNI yang memanfaatkan sementara rumah tersebut telah menjaga dan merawat rumah tersebut.

Sebelumnya pengungsi di Kabupaten Maybrat mengeluh rumah dan fasilitas umum di kampungnya masih dijadikan pos militer TNI dua tahun setelah konflik bersenjata antara Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan TNI di Kisor sejak 2 September 2021.

Lami Faan, salah satu pengungsi, mengatakan ia disuruh pulang ke kampung asal oleh pemerintah daerah. Namun ia bingung tinggal di mana karena rumahnya dijadikan pos militer TNI. 

“Saya disuruh pulang terus mau tinggal di mana? Saya punya rumah di kampung kan saat ini TNI jadikan saya punya rumah sebagai pos TNI terus mereka gunakan sekolah juga, gereja, jadi pos TNI. Saya punya rumah jadi kita mau pulang tinggal di mana,” kata Lami dalam konferensi pers daring kondisi terbaru pengungsi Maybrat, Kamis, 3 Agustus 2023.

Baca Juga  Happy Asmara Dianggap Beruntung Batal Nikah? Denny Caknan Pernah Doyan Main Judi, hingga Utang Rp50 Juta: Saya Stress...

Sementara itu Pastor Heri Lobya, staf Sekretariat Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Ordo Santo Augustinus (OSA), mengatakan agar Pemerintah Maybrat dan para pemangku kepentingan mengingatkan aparat TNI untuk tidak menggunakan fasilitas umum. 

“Pemerintah Maybrat dan semua pihak yang peduli terhadap pengungsi Maybrat perlu mengingatkan aparat TNI agar kantor kampung, sekolah, dan fasilitas umum lainnya jangan dijadikan sebagai pos,” kata Heri Lobya.

Iklan

Heri Lobya adalah salah satu yang turut mengadvokasi para pengungsi Maybrat. 

Heri mengatakan kondisi pengungsi kini hidup dalam penderitaan dan kesulitan aspek kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan ekonomi. 

Heri menuturkan para pengungsi sulit memperoleh akses pendidikan karena mengalami kendala untuk membayar uang sekolah anak-anak mereka. Dari segi kesehatan, pengungsi seringkali mengalami kekurangan obat dan pelayanan medis. 

Heri mengatakan beberapa waktu terakhir ini mereka sulit untuk mendapatkan akses obat-obatan dan pelayanan medis. Sebabnya, tidak ada uang untuk berobat atau kosongnya stok obat untuk mereka. Bahkan, kata Heri, ada ibu hamil yang melahirkan sendiri anaknya di tempat pengungsian tanpa bantuan tenaga medis. 

Para pengungsi Maybrat juga mengalami kesulitan tempat tinggal. Pasalnya, mereka harus hidup dengan beberapa kepala keluarga dalam satu rumah. Heri mengatakan, dari pengakuan para pengungsi, biasanya dalam satu keluarga bisa terdapat tujuh sampai sembilan kepala keluarga. Kenyataan hidup ini juga sangat berpengaruh pada aspek ekonomi dan pemenuhan makan minum. 

“Ketika dalam satu rumah ada beberapa kepala keluarga maka muncul kesulitan akan pemenuhan makan minum dalam keseharian hidup,” ujarnya.

Berdasarkan data Komnas HAM RI yang dirilis pada Jumat, 28 Juli 2023, tercatat ada 5.296 jiwa yang masih bertahan di tempat pengungsian dan 138 orang meninggal pasca penyerangan Pos Ramil Kisor. 

Baca Juga  Sadio Mane Malah Sedih Jadi Rekan Setim Ronaldo di Al Nassr, Ingin Balik ke Bayern Munich

“Ini berarti masih ada ribuan pengungsi Maybrat yang belum kembali ke Kampung halaman mereka dari 5 distrik dan 18 kampung di Aifat, Maybrat,” ujar Heri.

Pada 2 September 2021, Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyerang pos TNI di Kisor. Empat anggota TNI gugur dalam serangan ini. Konflik ini memaksa ribuan warga mengungsi dari beberapa wilayah distrik di Maybrat. Adapun beberapa wilayah yang warganya masih mengungsi adalah Distrik Aifat Selatan, Distrik Aifat Timur Tengah, Distrik Aifat Timur, Distrik Aifat Timur Jauh, dan Distrik Aifat Timur Selatan. 

Pilihan Editor: Pengungsi di Maybrat Keluhkan Rumah Mereka Masih Dipakai untuk Pos Militer TNI



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *